Panduan dalam Mengajarkan Pendidikan Seksualitas bagi Anak Berkebutuhan Khusus
Dalam mengajarkan tentang pendidikan seksualitas tentunya kita baik guru maupun orangtua harus memiliki pemahaman berkenaan tentang seksualitas.
Kita tidak bisa lagi menganggap bahwa membicarakan tentang pendidikan seksual adalah hal yang tabu. Sedini mungkin pendidikan tentang seksualitas harus diajarkan.
Terkadang juga muncul rasa kurang nyaman saat berdiskusi tentang seksualitas.
Oleh karena itu kita juga harus membangun situasi yang nyaman guna membangun diskusi tentang pendidikan seksualitas yang menyenangkan.
Tentunya sebagai edukator yang nantinya akan menyampaikan tentang pendidikan seksualitas kepada PDBK kita harus mampu menyampaikan informasi tentang sekualitas yang sebenar-benarnya dan mampu menyampaikan nilai-nilai yang tepat sehingga pembelajaran tentang pendidikan seksualitas dapat berjalan secara maksimal.
Dalam pelaksanaan pendidikan seksualitas bagi Anak Berkebutuhan Khusus (ABK), tentunya kita harus memiliki target yang ingin dicapai.
Adapun target yang ingin dicapai dari mengajarkan pendidikan seksualitas kepada ABK yaitu:
1. Memberikan informasi berkenaan dengan hal-hal yang berkaitan dengan seksualitas ( persepsi tentang tubuh, memahami dan mengelola perkembangan dan perubahan biologis pada dirinya, dan menghindarkan dari perilaku seks yang tidak sesuai dan kejahatan seksual yang mengintai)
2. Mengajarkan nilai-nilai (keluarga, kepercayaan, dan nilai sosial budaya). Mengajarkan pendidikan seksual tentunya juga harus tetap menanamkan nilai, baik moral dan agama karena penting guna menghindari resiko penyalahgunaan kejahatan seksual.
3. Mengembangkan keterampilan interpersonal (komunikasi, pengambilan keputusan, menciptakan hubungan yang baik)
4. Mengembangkan tanggungjawab atas diri mereka.
5. Mengetahui bagaimana dan kapan mencari bantuan.
Dari rumusan mengenai target pelaksanaan pendidikan seksualitas diatas, maka ada beberapa hal yang harus menjadi pertimbangan guru dan orangtua dalam mengajarkan pendidikan seksualitas bagi anak berkebutuhan khusus:
1. Ketepatan usia ( Mulailah bicara dengan anak-anak tentang seksualitas ketika mereka masih sangat muda. Jangan menunggu sampai usia pubertas atau lebih untuk memulai percakapan tentang seksualitas ini)
2. Kemampuan dalam memahami, setiap anak berkebutuhan khusus memiliki kemampuan yang berbeda dalam menangkap dan merespon informasi, oleh karena perlu sebuah strategi dalam penyampaian agar maksud dan tujuan dari pengajaran pendidikan seksualitas dapat tercapai bagi ABK yaitu :
A. Pecah-pecah topic bahasan mulai dari bagian paling sederhana dari seksualitas hingga bagian yang kompleks sehingga terbangun pemahaman tentang pendidikan seksualitas yang lebih komprehensif. Sebagai edukator kita bisa mengintegrasikan materi yang berkenaan dengan pendidikan seksualitas dengan materi pembelajaran. Kita bisa mengintegrasikan dengan akademik, life skills, dan seni.
B. Mulailah dari hal yang dasar (kenalkan nama-nama bagian tubuh, ajarkan konsep diri, tanamkan perbedaan area privat dan publik, ajarkan tentang privasi, area pribadi serta batasan dalam pergaulan, dan ajarkan konsep Relationship Circle)
C. Ajarkan anak tentang Relationship Circle/Lingkaran suatu hubungan.
Konsep ini bisa kita mulai ajarkan saat anak mulai memasuki masa baligh/ ketika mulai mengenal lawan jenis.
Lingkaran ini membantu kita sebagai guru untuk memahamkan kepada siswa bahwa setiap manusia hidup pada lingkungannya masing-masing. Seperti contoh, lingkungan rumah, lingkungan sekolah dan lingkungan kerja. Setiap lingkungan, kita menjumpai orang-orang yang berbeda.
Seperti disekolah kita bertemu guru, teman-teman, penjaga sekolah,dsb.
Melalui konsep relationship circle kita tanamkan konsep siapa aja yang ada di lingkaran itu, bagaimana sentuhan, bagaimana komunikasi, bagaimana kepercayaan dan menampakkan emosi sesuai warna pada lingkaran. Kita dapat membuat sendiri Relationship Circle yang terdiri dari 5 warna dalam setiap lingkaran yang mana dibagian paling adalah adalah lingkaran paling privasi dari diri kita dan di lingkaran terluar adalah area publik dimana area tersebut menggambarkan bagaimana bersikap kepada orang asing dengan penjelasan :
Ungu – Lingkaran privat – di lingkaran ini, hanya ada 1 orang yakni diri kita. Dan jika seseorang membuat kita tidak nyaman kita harus tegas untuk mengatakan TIDAK.
Biru- Lingkaran Orang Terdekat – di lingkaran ini hanya orang yang sangat dekat dengan kita (orangtua, anggota keluarga)
Hijau – Lingkaran Pertemanan yang dimaksudkan untuk teman-teman yang dekat namun tidak sedekat pada lingkaran biru.
Kuning- Lingkaran “jabat tangan” pada lingkaran ini hanya sebatas menyapa dan berjabat tangan
Orange – Lingkaran “lambaian” untuk orang yang kita lihat tapi tidak kita ketahui namanya, hanya sebatas tersenyum dan melambaikan tangan.
Merah – Lingkaran “orang asing” untuk orang yag kita tidak kenali wajahnya, tidak kenali namanya, orang asing.
D. Konkret – Gunakan alat bantu atau media visual untuk memperjelas konsep pada anak. (gambar, boneka manikin, video,dll) dan jadilah kreatif (gunakan sumber informasi yang tersedia)
E. Sampaikan secara berulang-ulang. Hal ini didasarkan atas kemampuan dari masing-masing peserta didik berkebutuhan khusus dalam menangkap materi yang berbeda-beda menjadikan dalam penymapian informasi harus berulang-ulang agar terbentuk ingatan yang melekat pada peserta didik berkebutuhan khusus tentang konsep pendidikan seksualitas yang benar.
F. Sesuaikan dengan kebutuhan dan karakteristik dari peserta didik. Mengajarkan pendidikan seksualitas tentunya harus disesuaikan dengan usia dan kebutuhannya.
Usia 3-5 tahun mulai bisa diperkenalkan bagian tubuh dan kebiasaan-kebiasaan sederhana missal memakai handuk saat keluar dari kamar mandi.
Usia 6-8 tahun mulai diperkenalkan nama anggota tubuh sesuai dengan fungsinya, mengenalkan area tubuh yang privat, mengenalkan konsep area publik dan area privat. Usia 9-12 tahun mulai memasuki masa pubertas, anak dikenalkan pada hal-hal yang terjadi saat masa pubertas dan membahasa perubahan fisik yang dialami
Usia 13-18 tahun tahapan mulai muncul ketertarikan terhadap lawan jenis anak bisa dikenalkan konsep relationship circle (batasan sosial)
Hindari menjelaskan dengan istilah-istilah yang tidak sesuai (gunakan bahasa yang tepat untuk menjelaskan nama anggota tubuh serta fungsinya)
Tanamkan konsep-konsep Personal Safety Guard pada anak untuk mencegah segala bentuk tindakan kekerasan seksual pada anak berkebutuhan khusus.
Sedini mungkin anak harus ditanamkan konsep No, Go, Tell. Anak diberikan pemahaman untuk mengatakan tidak pada perilaku yang dirasa tidak sesuai dan mengarah pada kejahatan seksual.
Sebisa mungkin anak juga kita ajarkan mampu mengabaikan dengan pergi apabila menghadapi situasi seperti itu dan membangun trust agar anak nyaman menceritakan apa yang terjadi dengan diri anak.
Ciptakan kerjasama dan bangun komunikasi efektif serta hubungan yang harmonis antara guru dan orangtua.
Sebagai kesimpulan, kunci utama dalam pelaksanaan pendidikan seksual adalah kita harus memiliki arah dan tujuan dalam pengajaran dan dalam pengajaran harus mempertimbangkan pada aspek-aspek yang telah banyak diuraikan diatas.
Kita menyadari bahwa ABK merupakan salah satu dari kelompok rentan yang rawan untuk mengalami kekerasan baik fisik maupun seksual, maka penting antara orangtua dan guru harus dapat membangun hubungan yang baik dalam memberikan wawasan dan melindungi ABK dari kejadian tindak kekerasan seksual.
Artikel ini telah tayang di kompasiana.com
